Home Top Ad

Responsive Ads Here
Showing posts with label Kuliah dan Mahasiswa. Show all posts

Kuliah = belajar sambil tiduran di taman? Ah, kalau gitu ane juga mau! Hehehe... Dari respon yang saya dapat di social media , sepe...

Kuliah = belajar sambil tiduran di taman? Ah, kalau gitu ane juga mau! Hehehe...


Dari respon yang saya dapat di social media, sepertinya kebanyakan pembaca blog saya adalah siswa-siswi SMA yang hendak melanjutkan kuliah di jurusan arsitektur. Banyak yang mention di Twitter bertanya tentang kuliah di jurusan arsitektur atau bagaimana cara masuknya. Saya usahakan jawab sebisanya buat pertanyaan-pertanyaan ini.

Kalau dipikir-pikir, zaman sekarang, dengan teknologi yang sudah maju, hal-hal seperti menentukan pilihan jurusan kuliah pun jadi lebih mudah. Informasi sudah banyak tersedia dan mudah diakses, tinggal kita cari dan kita jadi terbantu untuk membuat keputusan. Tidak seperti zaman dulu dimana orang harus ribet tanya ke sana-kemari.

Nah, saya yang baik hati ini juga ingin turut andil sebagai penyedia informasi bagi siswa-siswi SMA yang akan melanjutkan ke bangku perkuliahan. Berikut adalah pengertian beberapa istilah dalam dunia perkuliahan, tentu belum lengkap betul, tapi paling tidak bisa sedikit membantu dalam memberikan gambaran saat memasuki dunia kuliah nantinya. Selamat membaca!


Mata Kuliah
Mudahnya, mata kuliah sama saja dengan mata pelajaran untuk anak sekolah. Bedanya, kalau waktu masih sekolah, jadwal pelajaran ditentukan oleh pihak sekolah, siswa tinggal mengikuti. Sementara, saat kuliah, pihak kampus memang sudah menentukan jadwal perkuliahan, tapi mahasiswa bebas memilih mata kuliah yang ingin ia ambil serta waktunya, asal sesuai dengan peraturan akademik.

SKS
SKS adalah kependekan dari satuan kredit semester dan dinyatakan dalam angka. Secara sederhana, SKS ini bisa diartikan sebagai bobot mata kuliah. Semakin banyak SKS berarti semakin penting mata kuliah tersebut. Karena, semakin tinggi bobot SKS-nya, maka semakin besar pengaruh nilai mata kuliah tersebut terhadap IP (indeks prestasi). Misalnya rata-rata mata kuliah yang kita ambil bernilai 2-3 SKS dengan nilai sebagian besar A atau AB, tapi ternyata dalam satu mata kuliah berbobot 6 SKS (jumlah SKS-nya besar berarti mata kuliah utama) kita mendapat nilai C atau D, maka IP keseluruhan bisa ikut jeblok karena mata kuliah tersebut.

Satu satuan SKS sendiri biasanya ditentukan berdasarkan durasi kuliah tatap muka, yakni 50 menit per minggu. Berarti, untuk mata kuliah 2 SKS, kita harus mengikuti perkuliahan selama 100 menit tiap minggunya. Ada juga yang dihitung berdasarkan waktu pengerjaan tugas mandiri di rumah (seperti PR) atau tugas kelas, namun jarang sekali dipakai.

SKS ini juga turut mempengaruhi singkat atau lamanya waktu perkuliahan kita. Tidak seperti saat sekolah, SMA misalnya, dimana kita sudah ditentukan untuk lulus setelah tiga tahun (kecuali tinggal kelas), saat kuliah kita bisa membuat sendiri perhitungan waktu kelulusan kita melalui jumlah SKS yang kita ambil tiap semesternya. Jumlah SKS yang memenuhi syarat kelulusan untuk jenjang S1 adalah 144 SKS yang ditempuh dalam waktu normal 8 semester (4 tahun). Berarti, rata-rata tiap semester kita mengambil 18 SKS. Kalau dalam beberapa semester kita mengambil lebih dari jumlah tersebut, misalnya 22 atau 24 SKS, tentu kita bisa lulus kuliah kurang dari delapan semester.

Tetapi, tentu saja ketentuan pengambilan jumlah SKS tersebut harus tetap mengacu pada peraturan akademis. Seperti misalnya di kampus saya, ada pembatasan pengambilan SKS berdasarkan nilai IP semester sebelumnya (IP ≥ 3,00 SKS max. 24; IP 2,5-2,99 SKS max. 20; IP 0-2,49 SKS max. 16). Selain itu perlu diperhatikan juga syarat-syarat pengambilan mata kuliah, misalnya mata kuliah semester ganjil biasanya tidak boleh diambil saat semester genap dan sebaliknya, serta beberapa mata kuliah yang memiliki prasyarat (misalnya harus sudah lulus mata kuliah yang lain terlebih dahulu dsb.).

Contoh KRS.


FRS/ KRS
Kalau di kampus saya sebutannya FRS, kependekan dari Formulir Rencana Studi. Ada juga yang menyebut KRS, Kartu Rencana Studi. Tapi intinya kurang lebih sama. Sesuai namanya, rencana studi, FRS ini adalah isian rencana akademik kita selama satu semester, meliputi mata kuliah yang kita ambil, jumlah sks, jadwal perkuliahan, dsb. Proses ini umumnya sudah dilakukan secara online oleh masing-masing perguruan tinggi.

Selama proses ini berlangsung, kita disarankan untuk berkonsultasi terhadap dosen wali (seperti wali kelas saat sekolah) agar kita bisa dapat gambaran tentang mata kuliah yang akan kita ambil atau bagaimana supaya kita tidak kesulitan dengan pilihan tersebut setelah masa perkuliahan berjalan. Dosen wali pulalah yang nantinya akan menyetujui dan memvalidasi FRS kia sebagai syarat agar kita dapat mengikuti perkuliahan.

Biasanya, KRS ini harus dicetak melalui badan akademik untuk digunakan misalnya saat UTS atau UAS (ditunjukkan pada pengawas sebagai salah satu syarat mengikuti ujian). Tapi rasanya aturan itu tidak berlaku sama untuk semua kampus. Saya sendiri sampai saat ini hampir tidak pernah minta cetakan KRS. Buat apa, wong UAS-nya aja nggak ada.

IP
IP merupakan singkatan dari indeks prestasi atau gampangnya nilai. Pada akhir semester, kita akan tahu nilai kita untuk masing-masing mata kuliah yang kita ikuti dan dinyatakan dalam huruf (A, AB, B, BC, C, D, dst.). Masing-masing huruf tersebut mewakili nilai dalam rentang angka tertentu, contohnya huruf A untuk nilai 80-100, AB untuk 70-79, dst. Nilai dari masing-masing mata kuliah tersebut kemudian dikalkulasikan terhadap proporsi SKS-nya serta jumlah total SKS yang kita ambil dalam satu semester tersebut, lalu didapatkanlah nilai IP ini yang dinyatakan dalam angka (maksimal 4,00). Umumnya, yang dianggap bagus adalah IP 3,00 ke atas, sebab angka demikian mencakup nilai mata kuliah yang rata-rata AB atau A.

IP sendiri ada dua jenis, IPS (indeks prestasi semester) dan IPK (indeks prestasi kumulatif). IPS dihitung berdasarkan nilai yang kita dapat dalam satu semester. Sementara itu, IPK adalah perhitungan nilai selama jangka waktu perkuliahan total yang telah kita ikuti.

transkrip, transkrip akademik, transkrip s2, mahasiswa s2, transkrip its
Contoh transkrip


Transkrip
Transkrip sama saja dengan rapor sekolah yang memuat nilai-nilai kita selama kuliah. Transkrip biasa dapat dilihat lalu dicetak secara online untuk kepentingan-kepentingan nonformal. Untuk kepentingan yang lebih resmi, transkrip yang valid hanya dapat dimohon oleh mahasiswa dan dikeluarkan melalui BAAK (Badan Administrasi Akademis & Kemahasiswaan).

Asistensi
Asistensi adalah proses bimbingan kepada dosen atau asisten dosen terkait tugas yang sedang kita kerjakan. Dalam asistensi ini, kita tidak hanya mendapat pengetahuan tentang cara pengerjaan tugas yang benar atau koreksi saat ada kesalahan. Seringkali, dosen juga memberi kita ilmu tambahan yang tidak disampaikan di kelas atau pengalaman-pengalaman pribadinya dalam bidang yang sedang dibahas.


Asistensi ini sangat penting bagi mahasiswa. Ilmu yang disampaikan dosen pada saat asistensi biasanya lebih spesifik dan mendalam, serta penyerapannya bisa lebih efektif karena disampaikan pada kelompok kecil mahasiswa saja, tidak seperti pada kelas besar. Selain itu, dosen bisa memberi masukan yang spesifik pada tugas yang kita buat, sehingga kita bisa mengerjakan tugas dengan efektif dan efisien, tepat seperti kompetensi yang diharapkan.

Sebagai seorang mahasiswa arsitektur, saya bilang kuliah di jurusan ini tidaklah gampang (dan barangkali mahasiswa dari jurusan-juru...



Sebagai seorang mahasiswa arsitektur, saya bilang kuliah di jurusan ini tidaklah gampang (dan barangkali mahasiswa dari jurusan-jurusan lain juga berkata sama soal kuliah di jurusannya masing-masing). Tapi, jangan keder duluan kalau memang mau jadi mahasiswa arsitektur. Anggap saja tantangan. Dan tantangan seberat apapun selalu bisa diatasi dengan persiapan yang baik.

Memangnya, apa yang harus dipersiapkan kalau mau jadi seorang mahasiswa arsitektur? Berikut penjelasannya yang saya tulis berdasarkan pendapat dan pengalaman pribadi:

Passion dan Kecintaan Terhadap Dunia Arsitektur
Barangkali ini klise, tapi passion seseorang terhadap sesuatu memang berpengaruh besar terhadap kesuksesannya dalam bidang tersebut. Seorang rekan sesama mahasiswa arsitektur pernah curhat melalui komentar di blog saya. Masalahnya adalah ini: merasa salah jurusan. Lantas, apa saran saya? Pastikan bahwa kamu memang cinta arsitektur. Kalau memang tidak cinta arsitektur dan merasa ngoyo kuliah di jurusan tersebut, ya buat apa dipaksakan, pindah saja jurusan lain. Istilahnya, sudah capek-capek tapi kita tidak merasa mendapat apa-apa (karena gairah kita bukan di situ).

Tapi, kalau passion kita memang di bidang tersebut, maka kesusahan yang harus kita atasi adalah pengorbanan yang sepadan untuk hal yang lebih berharga yang kita dapat diakhir nanti. Bukankah cinta memang patut diperjuangkan?

Ketekunan dan Kerja Keras
Secinta atau sepintar apapun kita menuntut ilmu dalam bidang arsitektur, saya rasa tetap saja akan gagal jika tidak dibarengi dengan ketekunan dan kerja keras. Kalau boleh sedikit curhat, kuliah saya sekarang dipastikan tidak akan selesai tepat waktu karena alasan berikut: malas.



Saya mengulang mata kuliah Perancangan Arsitektur 1 –yang bobotnya saja 6 sks dan hanya bisa diambil sekali tiap semester- sampai tiga kali bukan karena saya bodoh, tapi karena saya kelewat santai dan sering terlambat mengumpulkan tugas (atau malah tidak mengumpulkan sama sekali). Untungnya, saya sudah tobat (semoga demikian). Barangkali saya memang belum rajin-rajin amat, tapi paling tidak saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk tidak terus-terusan menuruti kemalasan. Sekarang, perlahan-lahan IP saya mulai membaik. Jadi, kalau ada pelajaran berharga yang saya petik selama berkuliah di jurusan arsitektur adalah ini: jadi arsitek jangan malas!

Daya Bayang Ruang yang Baik
Arsitektur pada dasarnya adalah seni mengolah ruang, jadi ya wajar kalau salah satu persyaratan jadi arsitek adalah kemampuan spasial atau daya bayang ruang yang bagus. Arsitek memang menuangkan kreativitasnya pada kertas gambar, tapi setiap kali ia menggoreskan garis pada gambarnya, ia harus bisa membayangkan bagaimana jadinya ketika garis tersebut nantinya diwujudkan menjadi sesuatu yang nyata. Jadi tidak cukup hanya menggambar, tapi harus menggambar sambil membayangkan ruangnya secara tiga dimensi.

Saya pribadi suka melatih kemampuan ini dengan cara berikut: menyusun gambar. Tapi bukan menyusun gambar seperti bermain puzzle, melainkan mencocokkan dan “menyatukan” foto-foto yang berbeda dari objek yang sama. Kalau kita membuka website yang berisi kumpulan karya-karya arsitektur, biasanya kita akan disuguhi sederetan gambar serta foto objek yang diulas. Nah, yang saya lakukan adalah “memetakan” foto-foto tersebut pada gambar denah. Foto ini posisinya di sebelah mana, lalu foto yang lain posisinya dimana pada denah.

Lalu, saya akan berusaha “menyatukan” keseluruhan foto tersebut sebagai sesuatu yang utuh secara tiga dimensi. Saya membayangkan seolah-olah saya berada di objek yang tergambar dalam foto tersebut. Bagaimana rasanya berada di ruangan tertentu, lalu bagaimana rasanya ketika kita berjalan-jalan di dalamnya, berpindah dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Dengan begitu saya tidak hanya menikmati gambar yang dua dimensi, tapi saya juga berusaha merasakan sensasi dan pengalaman ruang dari karya arsitektur tersebut.

"Menyusun" beberapa foto menjadi satu kesatuan ruang seperti bermain puzzle dalam pikiran.


Memori Visual yang Kaya
Indera penglihatan mendapat tempat yang istimewa dalam proses berarsitektur (karena itulah salah satu syarat masuk jurusan arsitektur adalah tidak boleh buta warna). Ketika kita menikmati sebuah karya arsitektur, yang pertama kali kita tangkap adalah informasi visualnya terlebih dahulu.

Proses merancang sendiri terkadang tidak lebih dari kegiatan menggali kembali memori visual yang kita miliki. Karya-karya arsitektur yang pernah kita nikmati atau amati menjadi semacam tumpukan “gambar” dalam ingatan kita. Gambar-gambar tersebut lantas kita bongkar kembali untuk dipilah-pilah mana yang cocok untuk kita jadikan inspirasi bagi karya arsitektur berikutnya yang akan kita rancang. Oleh karena itulah, penting sekali bagi seorang perancang untuk memperkaya dan memperbarui perbendaharaan visualnya.

Waktu saya masih berstatus mahasiswa baru, dosen-dosen saya kerap mengulang-ulang pesan ini: seringlah jalan-jalan, seringlah lihat-lihat. Semakin jauh kita berjalan-jalan, semakin banyak hal-hal yang bisa kita amati. Dengan begitu, sebagai seorang calon arsitek, kita bisa memiliki memori visual yang kaya.

Peralatan Gambar yang Memadai
Kalau yang ini sih sudah pasti. Namanya jurusan arsitektur, isinya ya tidak jauh dari gambar-menggambar. Otomatis, sebagai mahasiswa ya sudah sewajarnya membekali diri dengan peralatan gambar yang memadai. Memadai itu yang seperti apa? Apakah yang mahal? Tidak harus begitu. Yang penting adalah yang sesuai kebutuhan dan kemampuan.



Memang, ada ungkapan ada harga ada rupa. Semakin canggih alat gambar sewajarnya semakin mahal pula harganya. Begitu juga soal kualitas. Tapi, buat apa beli alat gambar yang canggih dan mahal kalau hasil gambarnya masih acakadut? Alat gambar memang penting, tapi yang lebih penting lagi adalah keterampilan kita dalam menggunakannya. Kalau memang yang pakai jago, alat gambar yang paling dasar sekalipun tetap bisa menghasilkan gambar yang tidak kalah memukau.



Demikianlah kurang lebih hal-hal yang perlu dipersiapkan oleh seorang calon mahasiswa arsitektur. Sekali lagi, semua ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi saya. Jadi, kalau ada yang salah atau kurang berkenan ya mohon maaf.


Nah, gimana sekarang? Sudah siap jadi mahasiswa arsitektur?

Perancangan Arsitektur 1 (6 sks) Mata kuliah studio perancangan adalah mata kuliah utama di jurusan arsitektur (bisa dilihat dari ...



Perancangan Arsitektur 1 (6 sks)
Mata kuliah studio perancangan adalah mata kuliah utama di jurusan arsitektur (bisa dilihat dari jumlah sks-nya). Untuk semester satu, mata kuliah perancangan difokuskan untuk melatih kepekaan estetik mahasiswa. Tugas-tugas yang diberikan seperti membuat karya rupa atau gambar banyak mengeksplorasi elemen-elemen estetis dasar seperti bentuk, warna, pola, dsb.

Komunikasi Arsitektur (3 sks)
Meskipun judulnya komunikasi, mata kuliah ini sebenarnya membahas tentang gambar-menggambar (karena media komunikasinya arsitek ya gambar). Komunikasi Arsitektur adalah penggabungan dari mata kuliah Gambar Teknik dan Gambar Arsitektur yang dijadikan satu setelah pergantian kurikulum. Pada mata kuliah ini, mahasiswa diajarkan teknik-teknik menggambar yang baik dan benar, serta pengetahuan dasar terkait penyajian grafik arsitektur (jenis-jenis gambar arsitektur, notasi material, simbol-simbol grafik, dsb.).

Matematika Arsitektur (2 sks)
Mata kuliah ini adalah pengganti dari Kalkulus yang merupakan mata kuliah umum (diselenggarakan oleh UPMB dan perkuliahannya dicampur dengan mahasiswa dari jurusan-jurusan lain). Materi yang diajarkan rata-rata diambil dari materi pelajaran matematika kelas 3 SMA IPA seperti fungsi, integral, diferensial, matriks, dsb.

Mekanika Teknik (3 sks)
Selain di jurusan arsitektur, mata kuliah Mekanika Teknik juga diajarkan di jurusan teknik sipil. Bedanya, di jurusan teknik sipil, mata kuliah ini berkelanjutan (ada Mekanika Teknik 2 di semester selanjutnya), sedangkan di jurusan arsitektur mata kuliah ini cukup diambil satu kali. Materi yang diajarkan meliputi dasar-dasar statika gaya (gaya, pembebanan, momen, torsi, dsb.) dan aplikasinya pada suatu bangunan.

Mata Kuliah Umum (MKU): Bahasa Inggris (2 sks), Agama (2 sks).

A : Kuliah jurusan apa?   B : Arsitektur...    A : Wah, pasti jago gambar deh. Perkara gambar-menggambar memang sudah lek...



A : Kuliah jurusan apa? 
B : Arsitektur...  
A : Wah, pasti jago gambar deh.

Perkara gambar-menggambar memang sudah lekat sekali dengan dunia arsitektur. Lumrah kalau kebanyakan orang beranggapan bahwa arsitek atau mahasiswa arsitektur pastilah orang-orang yang pandai menggambar. Saking lumrahnya, saya yakin hampir semua mahasiswa arsitektur di seluruh Indonesia raya pasti pernah dapat komentar seperti yang saya tulis pada percakapan di atas. Sayangnya, pandangan tersebut akhirnya malah jadi “tembok penghalang” bagi sebagian orang, yakni anak-anak SMA yang berminat meneruskan studinya di jurusan arsitektur, tapi harus mengurungkan niatnya lantaran minder dengan kemampuan menggambarnya yang pas-pasan.

Lantas, apakah jadi arsitek memang harus jago menggambar?

Tidak mutlak harus, tapi penting. Bayangkan kita sedang bertemu dengan klien. Nggak mungkin dong bawa-bawa laptop lalu ngutak-ngatik SketchUp atau AutoCAD sementara klien kita mengemukakan desain yang ia inginkan. Tentu sangat tidak efisien. Untuk keperluan itu, membuat sketsa dengan kertas dan pensil tetap jadi juara. Atau, dengan kemajuan teknologi sekarang, tablet dengan aplikasi free-sketching. Apapun itu, keduanya tetap butuh kemampuan menggambar yang mumpuni.




Eits, yang merasa kurang jago menggambar jangan keburu putus asa dulu. Kemampuan menggambar memang penting, tapi bukan satu-satunya syarat. Arsitek tidak sama dengan tukang gambar. Jadi, ada syarat-syarat lain yang lebih penting daripada sekedar ‘jago menggambar’, seperti:

Ide dan Konsep Rancangan yang Kuat
Gambar sebagus apapun tidak akan berarti jika konsep rancangan yang diusung biasa-biasa saja atau malah buruk. Dalam arsitektur, gambar hanyalah media atau cara penyampaian, yang utama tetap rancangannya. Gampangnya, gambar itu ibarat amplop dan konsep rancangan ibarat surat. Mana yang lebih penting, amplop atau isi suratnya?  Lagipula, bagaimana bisa membuat gambar yang bagus kalau yang mau digambar aja nggak ada?

Daya Bayang Ruang yang Baik
Arsitektur pada dasarnya adalah seni mengolah ruang. Jadi ya sudah sewajarnya seorang arsitek memiliki daya bayang ruang atau kemampuan spasial yang baik.Tidak hanya membuat gambar yang terlihat bagus, seorang arsitek juga harus bisa membayangkan bagaimana “rasanya” berada pada ruang tersebut ketika rancangan tersebut nantinya telah dibangun. Dengan begitu, rancangan yang ia hasilkan bisa lebih hidup.

Kemauan dan Ketekunan
Jago menggambar saja tidak akan cukup untuk jadi arsitek bila tidak disertai dengan kegigihan. Nyatanya, kuliah di jurusan arsitektur tidak bisa dibilang mudah. Tugasnya seabrek. Sekalipun gambarnya bagus, kalau telat mengumpulkan tugas –atau malah tidak mengumpulkan sama sekali- karena malas-malasan atau manajemen yang kurang baik, ujung-ujungnya ya dapat nilai yang jelek juga.

Begitu pun sebaliknya. Meskipun hanya memiliki kemampuan menggambar yang pas-pasan, asalkan rajin dan tekun (mengumpulkan tugas tepat waktu, sering asistensi, sering membaca-baca literatur untuk meningkatkan kualitas rancangan, dsb.), hasil yang didapat tentu sepadan.

Empat tahun perkuliahan bukanlah waktu yang singkat untuk melatih kemampuan menggambar, apalagi saat kuliah tentu juga diajarkan pula teknik-teknik menggambar yang baik. Ditambah, sistem penerimaan mahasiswa arsitektur yang sekarang menggunakan tes tulis, tidak seperti dulu yang juga disertai tes gambar.


Jadi, jangan ada lagi alasan untuk membuang mimpi menjadi seorang arsitek hanya karena kemampuan menggambar yang pas-pasan. Selamat berjuang!

Gambar di atas pernah di- posting salah seorang teman saya di grup Facebook angkatan kami. Banyak komentar masuk. Tapi, tanpa ...

proses kreatif, siklus kreatifitas, siklus kreativitas, cara kerja mahasiswa



Gambar di atas pernah di-posting salah seorang teman saya di grup Facebook angkatan kami. Banyak komentar masuk. Tapi, tanpa dinyatakan pun, saya rasa kami rata-rata sudah cukup sepakat tentang betapa benarnya isi grafik tersebut. It’s funny because it’s true. Betapa kami pontang-panting menjelang deadline sebagian besar adalah akibat progres pengerjaan yang sangat minim minggu-minggu sebelumnya –jika bukan tidak ada sama sekali.

Banyak sebab memang. Bisa jadi salah dosen pembimbing –sulit ditemui untuk asistensi, tiba-tiba menyuruh ganti desain, dsb., meskipun tetap saja kebanyakan memang salah mahasiswanya sendiri. Hehehe... Salah satu sebab tersebut, bagi sebagian orang, barangkali soal inspirasi. Entah inspirasinya belum datang, datang tapi telat, atau malah tidak datang sama sekali.

Saya dulu juga begitu, menunggu inspirasi yang tidak kunjung datang. Tapi semakin ke sini saya belajar bahwa hal tersebut sangatlah tidak efektif, sebab...

Inspirasi Tidak Bisa Ditunggu, Tapi Dicari.

Inspirasi bukanlah wahyu yang diturunkan malaikat dari langit. Kita bisa berlama-lama menunggu sebuah ide cemerlang muncul di kepala kita atau kita bisa segera memulai dan memburu ide tersebut. Kalau cuma menunggu, kenapa tidak bersemedi sekalian? Siapa tahu dapat wangsit nomor togel juga. Hehehe...


Kunci utama dalam mencari inspirasi adalah ini: buka mata selebar-lebarnya dan lihatlah sebanyak-banyaknya. Mulai dari surfing di website-website yang memajang karya-karya arsitektur (bisa lihat beberapa link-nya di blog ini) sampai mengamati bangunan-bangunan menarik yang kita temui sepanjang perjalanan ke kampus atau ke tempat lain, lakukan semuanya. Dengan begitu, peluang untuk menemukan ide desain yang menarik akan semakin besar.

Sementara itu, dengan membuka mata selebar-lebarnya, yang saya maksud adalah jangan membatasi sumber inspirasi kita. Memiliki tugas mendesain rumah tinggal bukan berarti kita hanya boleh melihat-lihat desain rumah tinggal saja. Yang begitu memang bagus, mempermudah kita mencari contoh yang kontekstual. Tapi, melihat lebih luas pun bukanlah sebuah dosa. Siapa tahu kita malah dapat lebih. Misalnya saja lihat-lihat foto-foto kafe atau restauran memberi kita ide untuk ruang makan yang unik, atau melihat-lihat desain pabrik atau gudang ternyata memberi kita ide untuk mendesain dengan tema rustic industrial. Dan siapa bilang harus melulu soal arsitektur? Saya suka juga lihat-lihat karya-karya desain grafis seperti poster, illustrasi, dsb. Dari situ juga kadang-kadang muncul inspirasi untuk, misalnya, desain fasad atau wallpaper.
Jadi, sekali lagi, bukalah mata selebar-lebarnya dan lihatlah sebanyak-banyaknya.

Tapi, itu semua baru langkah awal, sebab yang paling penting sebenarnya adalah langkah berikutnya:

Kerjakanlah!

Hanya mencari inspirasi tidak akan membawa kita kemana-mana. Selama kita tidak mulai bekerja, terus-menerus mencari inspirasi hanya akan memasok ide yang terlalu banyak ke dalam otak kita. Otak kita jadi overload ide. Dan percayalah, terlalu banyak ide tidaklah lebih baik daripada tidak ada ide sama sekali. Terlalu banyak pilihan malah akan membuat kita bingung untuk membuat keputusan, ide mana yang harus dieksekusi. Maka, sebelum bingung sendiri, mulailah bekerja!

Mulailah berproses begitu ada ide yang sekiranya cukup bagus. Jangan khawatir bahwa itu mungkin bukan ide yang terbaik. Sebab, proses desain itu sendiri masih cukup panjang untuk sebuah ide bisa tereksplorasi lebih jauh lagi. Bahkan, bukan tidak mungkin selama proses pengerjaan, kita akan menemukan kemungkinan-kemungkinan desain yang tidak kita duga sebelumnya, membuat rancangan kita justru jadi lebih matang.

Segera mulai bekerja juga memungkinkan kita tahu lebih cepat sekiranya ide desain yang kita pakai ternyata tidak bekerja dengan baik atau sesuai yang kita inginkan. Sehingga, kita dapat segera mengganti atau membuat penyelesaian alternatifnya sebelum deadline semakin mepet. Intinya, mulailah bekerja dan biarkan prosesnya mengalir.



Seorang prajurit pasti selalu membekali diri dengan senjata untuk bisa bertahan dalam peperangan, entah itu pedang, tombak, panah, atau be...

Seorang prajurit pasti selalu membekali diri dengan senjata untuk bisa bertahan dalam peperangan, entah itu pedang, tombak, panah, atau berbagai jenis persenjataan lain. Demikian pula seorang arsitek, atau dalam tahapan saya, mahasiswa arsitektur. Selayaknya seorang prajurit yang “bertempur” di atas kertas gambar, sudah sepatutnya mahasiswa arsitektur pun mempersenjatai diri dengan perlengkapan gambar yang mumpuni.

Alat-alat gambar sendiri sebenarnya sangat beraneka macam jenisnya, tergantung kebutuhan gambar yang ingin dihasilkan. Semakin bagus gambar yang ingin dihasilkan, tentu alat gambar yang digunakan akan semakin advance. Namun, perlu diingat, secanggih atau sebagus apapun alat gambarnya, keterampilan pemakainya tetap menjadi kunci utama dalam menghasilkan gambar yang ciamik.

Nah, yang akan saya bahas dalam artikel ini adalah alat-alat gambar yang paling dasar yang banyak digunakan dalam semester-semester awal perkuliahan di jurusan arsitektur. Yang canggih-canggih nanti kalau sudah berpengalaman pasti tahu sendiri. Hehehe.. Berikut perlengkapan gambar tersebut:

1. Pensil
Jenis pensil ada bermacam-macam, dibagi berdasarkan kekerasan dan kehitaman isi pensilnya. Untuk membedakan jenis pensil yang satu dengan yang lain digunakan kode berupa huruf dan angka. Kode huruf untuk menunjukkan kekerasan isi pensil, seperti H (hard), B (bold), atau F (firm). Sementara kode angka digunakan untuk menunjukkan tingkatannya. Pensil 9H merupakan pensil yang paling keras, diikuti 8H, 7H, dan seterusnya sampai yang paling lunak adalah pensil 6B. Selain itu ada juga pensil EE yang isi pensilnya arang, sehingga kehitaman yang dihasilkan pun berbeda.

alat gambar arsitektur, alat tulis, pensil hb, pensil staedler, pensil, pencil, hb pencil, blue pencil, pencil tip, ujung pensil, pensil biru

Berikut ini adalah sedikit tentang karakter isi pensil yang saya cuplik dari buku Grafik Arsitektur karya Frank D. K. Ching:

4H
- keras dan padat
- digunakan untuk menggambar rencana yang menuntut ketelitian tinggi
- tidak cocok untuk gambar yang firal
- tidak boleh ditekan terlau kuat sewaktu menggambar karena akan meninggalkan bekas di atas kertas dan sukar dihapus
- jika dipakai untuk meggambar di atas kertas kalkir, hasil cetak birunya tidak jelas

2H
- agak keras
- jenis yang paling keras yang bisa dipakai untuk gambar final
- sukar dihapus jika ditekan terlalu kuat

F dan H
- sedang
- cocok untuk segala keperluan
- dipakai untuk membuat rencana, gambar final, dan menulis

HB
- lunak
- dipakai untuk membuat garis dan tulisan yang besar/lebar dan jelas
- perlu kesabaran untuk membuat garis-garis yang halus
- mudah dihapus
- hasil cetak birunya cukup baik
- mudah luntur bila kena gesekan

2. Drawing Pen
Sama seperti pensil, drawing pen pun ada bermacam-macam jenisnya, dibedakan berdasarkan ukuran ujung penanya. Untuk membedakan, digunakan kode berupa angka, mulai dari 0.05, 0.1, 0.2, dst. Semakin besar angkanya, maka garis yang dihasilkan semakin tebal atau besar pula. Selain ukuran pensil, tebal-tipisnya garis juga ditentukan oleh penekanan tangan kita ketika menggunakan pena.

alat gambar arsitektur, drawing pen, tip size, ink pen, ukuran pena gambar, drwing pen hitam, jenis-jenis drawing pen

alat gambar arsitektur, drawing pen 0.3

Selain drawing pen, di pasaran ada juga caligraphy pen. Saya dulu sempat salah beli caligraphy pen karena bentuknya yang nyaris sama. Bedanya, ujung pena caligraphy pen agak memipih karena digunakan untuk membuat efek garis tebal tipis yang menerus seperti halnya pada kaligrafi. Untuk menggambar arsitektur, terutama gambar teknik, tentu caligraphy pen ini tidak dibutuhkan. Jadi, telitilah membaca label pena terlebih dahulu supaya tidak salah beli.

3. Penggaris
Di pasaran, ada banyak penggaris beraneka bentuk dan bahan yang ditawarkan. Untuk menggambar, yang paling pas dipakai adalah penggaris dari bahan mika. Penggaris berbahan besi baik dipakai untuk mengerjakan maket, terutama sebagai alat bantu memotong bahan.

alat gambar arsitektur, pensil dan penggaris, ujung pensil, penggaris mika

Penggaris biasa yang lurus biasanya memiliki beberapa pilihan ukuran, mulai dari yang kecil 10 atau 15 cm sampai ada juga yang mencapai 1 m. Sedikit berbagi pengalaman pribadi, awalnya saya cuma membeli penggaris ukuran 60 cm dengan pertimbangan kalau ada yang ukurannya lebih panjang, kenapa beli yang pendek juga, toh sudah ter-cover ukurannya. Tapi, setelah dipakai, baru saya sadari bahwa menggunakan penggaris yang terlalu panjang untuk membuat garis yang pendek ternyata tidak efektif juga. Selain lebih repot, kadang-kadang garisnya pun jadi tidak akurat lurus karena penggaris yang kepanjangan tadi suka bergeser saat kita menarik garis. Jadi, yang paling aman adalah memiliki beberapa penggaris bermacam ukuran untuk membuat garis dengan jangkauan panjang yang berbeda-beda pula.

alat gambar arsitektur, penggaris segitiga, hand grip, triangular ruler


cara membuat sudut menggunakan penggaris segitiga, sudut penggaris, how to make angle using triangular ruler


Selain penggaris lurus biasa, ada juga penggaris segitiga siku-siku (dengan sudut 45-45 atau 30-60 derajat) untuk memudahkan membuat sudut siku atau garis sejajar, ada juga penggaris segitiga dengan pegangan (grip) yang cocok digunakan ketika harus menggambar di area gambar yang kritis (misalnya di tepi kertas), juga ada penggaris mal yang membantu memudahkan kita membuat template bentuk-bentuk geometris. Sekali lagi, penggaris mana yang paling baik dipakai adalah penggaris yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda sendiri.

alat gambar arsitektur, penggaris mal, pattern ruler, penggaris pola geometris


4. Pensil Warna
Umumnya, pensil warna ada dua jenis, classic color & water color. Pensil warna jenis water color bisa digunakan sebagai pensil warna biasa juga bisa digunakan sebagai cat air ketika disapu dengan air atau kuas basah. Sepertinya lebih praktis ya, dua fungsi dalam satu benda. Tapi, saran saya, kalau memang tidak pernah atau jarang memanfaatkan fitur cat airnya, lebih baik beli yang classic saja. Sebab, pensil warna water color biasanya lebih lunak, sehingga lebih cepat habis dan harus sering-sering diserut saat digunakan. Kecuali Anda memang sering menggunakan fitur cat airnya, mewarnai memakai pensil warna water color menurut saya jatuhnya jadi kurang ekonomis. Kalau lebih sering mewarnai biasa, saran saya lebih baik beli pensil warna classic color saja yang lebih sesuai kebutuhan.

alat gambar arsitektur, pensil warna, classic color, water color, faber castell

Selain pensil, spidol berwarna biasanya juga dipakai. Hanya saja, spidol biasanya dipakai untuk membuat garis yang berwarna (misalnya untuk membedakan garis notasi), bukannya mewarnai bidang karena pasti akan lebih boros. Selain spidol, bisa juga menggunakan drawing pen berwarna (selain hitam).

5. Sketch Book
Kalau jamannya sekolah dulu kita masih pakai buku gambar, sekarang sudah waktunya pakai sketch book. Selain isinya lebih banyak (jadi tidak usah sering-sering beli), sketch book pun lebih praktis dan rapi kalau harus dipisah per lembar untuk pengumpulan tugas. Untuk ukuran, sesuaikan dengan ukuran tugas yang sering dikerjakan, saya rasa yang paling umum ukuran A3. Selain itu, tidak ada ruginya juga membeli satu sketch book ukuran A5. Sketch book yang lebih kecil ini praktis dibawa kemana-mana, siapa tahu saja tiba-tiba dapat inspirasi, jadi bisa langsung disketsa.

alat gambar arsitektur, jenis-jenis sketchbook, ukuran sketchbook, a3, a4, a5, buku gambar


Selain sketch book, buku gambar lain yang mungkin berguna adalah buku gambar milimeter (milimeter block). Tiap kertasnya sudah dilengkapi garis-garis panduan sampai ukuran 1 mm. Milimeter block sangat membantu untuk membuat sketsa yang terukur atau berskala sebelum dipindahkan ke kertas gambar untuk gambar finalnya.

6. Tabung Gambar
Yang ini memang bukan termasuk alat gambar, malah buat orang-orang malah sering dibuat guyonan sebagai bom. Hehehe.. Tabung gambar ini, buat yang belum tahu, semacam alat simpan, tasnya gambarlah gampangnya. Tabung gambar ini cukup praktis untuk membawa kertas gambar sampai ukuran yang cukup besar (A0, A1, A2, dst.). Saya juga lebih memilih tabung ini untuk membawa kertas ukuran A3 karena biasanya agak sulit nemu tas yang muat kertas atau sketch book A3. Jadi, saya ambil saja beberapa lembar A3 dari sketch book sesuai kebutuhan lantas saya gulung dan masukkan ke dalam tabung.

Selain kertas, tabung gambar ini juga bisa digunakan untuk membawa penggaris yang ukurannya cukup panjang sekalian. Misalnya malas bawa tas lagi, kalau memang masih muat, tabung ini bisa digunakan untuk membawa beberapa alat gambar lainnya seperti pensil, pena, dsb.

alat gambar arsitektur, tabung gambar, paper tube


Tabung gambar ditawarkan dalam beberapa ukuran diameter di pasaran. Harganya memang agak lumayan menguras kantong, terutama di toko alat tulis yang sudah punya nama. Pengalaman saya, di toko alat tulis dekat kampus, harga tabung gambar bisa cuma setengah dari harga yang ditawarkan di toko-toko besar seperti Gramedia atau Togamas, padahal bentuknya ya sama persis. Kalau mau kreatif pun, sebenarnya bisa kok kalau mau membuat tabung gambar sendiri. Saya pernah menjumpai beberapa mahasiswa yang membuat tabung gambar sendiri dari pipa paralon yang diolah sedemikian rupa. Murah tapi tetap fungsional.